Naja, Bocah Ajaib Asal Lombok yang Hafal 30 Juz Al-Qur'an

DAFTAR Isi : Tampilkan


Lombokterkini.id - Muhammad Naja. Bocah yang sempat menjadi perbincangan semenjak tampil di layar televisi. Ia adalah peserta lomba hafiz cilik Indonesia atau lomba hafal Alquran yang diselenggarakan salah satu stasion TV swasta nasional.

Muhammad Naja, bocah 9 tahun pelajar kelas 3 Lentera Hati Islamic Boarding School Jatisela Kecamatan Gunungsari Lombok Barat telah membuktikannya. Divonis mengidap penyakit kelumpuhan otak atau cerebral palsy, ia justru mampu menghafalkan alquran 30 juz dalam waktu singkat.

Naja berhasil membuat masyarakat Indonesia kagum padanya karena kemampuannya menghafalkan Alquran 30 juz di usia sembilan tahun. Yang lebih membuatnya luar biasa, ia menghafal Alquran meski saat ini oleh pihak medis divonis menderita penyakit kelumpuhan otak atau cerebral palsy.

Penyakit yang disebabkan oleh perkembangan otak yang tidak normal bawaan sejak lahir. Penyakit ini telah membuat tubuhnya lemas atau kaku dan gerakan tak terkendali. Dengan segala kekurangannya, Naja justru membuktikan ia punya bakat yang tak bisa dimiliki sembarangan orang. Ya, dialah salah satu penjaga Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini yang membuat salah satu dewan juri Hafiz Cilik Syeikh Ali Jaber sempat mencium kakinya.  Video adegan itu pun sempat pun viral di media sosial.

“Tiga setengah,” jawab Naja pelan ketika ditanya kapan pertama kali ia mulai belajar menghafal Alquran.

Naja menuturkan dirinya suka mendengar ayat suci Alquran lewat sebuah alat pemutar suara elektronik yang selalu digenggamannya. Pemutar suara berwarna hitam seperti kaleng itu pun kemarin masih erat digenggamnya. Ini menjadi salah satu ‘mainan’ favoritnya. Dari sana ia belajar mendengar kemudian menghafal Alquran.

Gerakan dan ucapan Naja memang lebih lambat dibanding teman-teman seusianya. Namun di balik itu, ia punya indera pendengaran dan daya ingat yang jauh lebih tajam dari semua teman kelasnya.

Itu ia buktikan ketika diuji oleh salah satu gurunya Akram. Guru kelas IV tersebut membacakan salah satu surat Albaqarah tentang perintah berpuasa. Seketika, Naja kemudian melanjutkan bacaan ayat tersebut dengan menghafal. Tidak hanya itu, ia bahkan langsung menyebutkan ayat surat tersebut serta halamannya.

Inilah yang membuat dewan juri Hafiz Indonesia kagum pada kemampuan bocah kelahiran 17 November 2009 itu. Kepada Lombok Post, ia mengaku senang mendegarkan bacaan Alquran dan menghafalkannya. Saat masuk kelas 1 Lentera Hati Islamic Boarding School, ia berhasil menghafal lima juz Alquran. Begitu naik ke kelas 2, ia sudah menghafal 22 juz. Kini, menginjak kelas 3 SD, 30 juz Alquran sudah terekam di dalam kepalanya. “Ibu janjikan umroh kalau hafal 30 juz. Mau diajak ke makam Nabi Muhammad. Makanya semangat,” aku Naja.

Motivasinya menghafal Alquran menjadi semakin berlipat. Karena ia mengaku sangat mengidolakan Rasululllah SAW. Entah apa alasannya, yang jelas putra pertama Dahlia Anjani tersebut mengaku menyukai Rasulullah SAW yang memiliki mukjizat Alquran. “Senang aja,” jawabnya tersenyum ditanya alasannya mengidolakan Rasulullah SAW.

Naja mengaku sangat bersukur pernah diajak ke makam rasulullah oleh orang tuanya saat umroh beberapa waktu lalu. Baginya itu adalah salah satu cita-citanya yang sudah terwujud.

Kemampuan Naja menghafal Alquran tidak didapatnya dengan instan. Guru pendampingnya mengakui Alquran memang tidak bisa lepas dari kesehariannya sejak kecil. Bahkan sebelum ia mulai bisa mengunyah nasi, ia sudah mulai senang mendengarkan alquran. Maklum, sebelum usia tiga tahun Naja masih makan menggunakan nasi yang sudah dihaluskan dengan blender.

Setiap tidur, orang tua Naja selalu memperdengarkan alquran padanya. Begitu juga dengan beberapa acara televisi yang menyiarkan bacaan alquran. Inilah yang membuatnya memiliki kemampuan menghafalkan Alquran bahkan sejak duduk di bangku TK. Karena memori otaknya sangat kuat merekam apapun yang didengarnya.

“Makanya kami di sini tidak berani berkata-kata negatif. Karena itu akan langsung terekam di memorinya,” tutur Winda.

Kemampuan Naja menghafalkan Alquran tentu merupakan hal yang istimewa. Sayangnya, ini tidak lantas membuatnya mendapatkan perlakuan istimewa. Sebelum masuk ke Lentera Hati, Naja sempat ditolak masuk di beberapa sekolah umum. Alasanya pihak sekolah menyarankan agar Naja masuk ke sekolah inklusi. Mengingat dirinya yang mengidap penyakit kelumpuhan otak.

Namu ia akhirnya diterima di Lentera Hati Islamic Boarding School. Maklum, sekolah ini memang menerima siswa berkebutuhan khusus. “Ada juga siswa lain yang tuna netra, hingga terganggu pendengarannya juga belajar di sini,” kata Winda, guru kelas Naja.

Tidak hanya itu, kemampuannya menghafal Alquran semakin terasah di sekolah ini. Karena ia mendapatkan kelas khusus untuk hafal alquran. Sehingga, dalam waktu singkat ia pun berhasil menamatkan hafalan 30 juz.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama