Anti Kebal ! Ini 3 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat

DAFTAR Isi : Tampilkan
Senjata Tradisional Nusa tenggara Barat

Kesempatan kali ini Lombok Terkini  akan mengulas senjata-senjata tradisionil dari Provinsi Nusa Tenggara Barat ini pada Sahabat terkini,  dengan arah untuk meningkatkan wacana budaya sahabat Nusantara dimanapun berada.

Masyakarat suku Sasak, Bima dan Sumbawa memiliki beragam kebudayaan yang bisa kita lihat dari kehidupan sehari-hari. Salah satu karya budaya yang sampai saat ini masih melekat dalam kehidupan mereka adalah berupa senjata tradisional.

Senjata tradisional Nusa Tenggara Barat ini dipergunakan selain sebagai alat bantu untuk bercocok tanam, berburu dan benda pusaka, pada saat ini penggunaannya juga menjadi perlengkapan dalam pakaian adat.

Penggunaan senjata tradisional Nusa Tenggara Barat tersebut diatas, tentu tidak sama dengan saat-saat awal senjata tradisional tersebut dibuat.

Pada zaman dahulu, senjata tradisional tersebut dibuat dengan tujuan sebagai alat untuk menjaga diri baik dari serangan musuh maupun dari binatang ternak, dan sebagian lainnya juga digunakan untuk berburu binatang untuk konsumsi.

Berikut keterangan serta gambar senjata tradisionil Nusa Tenggara Barat yang dapat kita tahu bersama dengan :

1. Senjata Tradisionil Nusa Tenggara Barat - Tulup

Senjata Tradisional Nusa tenggara Barat

Orang Indonesia kenal tulup jadi senjata yang dipakai untuk memburu atau menyerang musuh dari jarak jauh. Tulup atau sumpit memang dipakai oleh beberapa suku yang tinggal di pedalaman Indonesia seperti di Kalimantan, Papua, Sumatra serta terhitung di Nusa Tenggara Barat.

Nenek Moyang suku sasak di Propinsi Nusa Tenggara Barat, kenal tulup jadi alat untuk memburu binatang di rimba. Pemburu tradisionil Sasak berasumsi jika, tidak hanya jadi senjata memburu, tulup dipandang seperti benda sakral. Ini didasarkan pada pertimbangan jika memburu ialah mata pencaharian mereka sedang tulup ialah alat mereka cari rejeki, karena itu tulup butuh dihargai serta dihormati.

Pensakralan pada tulup mereka ekspresikan berbentuk memberikan doa atau jampi-jampi pada tulup mereka. Tidak hanya untuk penghormatan serta permintaan pada Yang Kuasa, doa serta jampi-jampi diperuntukkan supaya tulup bisa membuahkan banyak binatang buruan.

Maka tidaklah heran bila oleh beberapa pemburu, tulup dan ancar (peluru tulup) serta terontong (tempat menaruh ancar) tetap digantung di atas tembok rumah-rumah mereka (Lalu Wiramaja et al., 1993).

Di jaman saat ini, kelompok-kelompok warga yang tinggal di dekat rimba, masih memakai tulup untuk memburu. Rimba Lombok yang lebat serta jumlahnya babi dan kera yang berkeliaran disana membuat praktik memburu ini masih disukai oleh beberapa masyarakat.

Namun saat pemerintah provinsi yang bekerja bersama dengan Departemen Kehutanan melarang kera (lutung budeng atau trachypithecus auratus kohlbruggei) untuk dibunuh sebab hewan ini terhitung hewan yang dilindungi, jumlahnya pemburu tradisionil makin hilang
Tulup orang Sasak memiliki tiga elemen penting yakni, gagang tulup, ancar (peluru tulup), serta terontong (tempat menaruh ancar).

Supaya binatang cepat mati, umumnya pada ancar (peluru tulup) dioles-oleskan toksin yang datang dari getah pohon tatar. Getah ini amat manjur untuk membunuh binatang. Binatang seperti kera akan mati dalam tempo kurang lebih 15-30 menit.

Sesaat babi memerlukan waktu kurang lebih 2 hari (Wiramaja et al., 1993). Waktu memburu, ke-3 elemen itu harus dibawa sebab ketiganya sama-sama lengkapi.

Orang Sasak cukup gampang untuk memperoleh beberapa bahan yang dibutuhkan bila ingin membuat tulup. Ini karena beberapa bahan itu ada serta tumbuh di lingkungan sekitar rumah mereka. Tulup mempunyai tiga elemen penting, yakni gagang tulup, ancar (peluru tulup), toksin tulup serta terontong (tempat menaruh ancar).

Mengenai bahan pembuat tulup diantaranya :

  • Kayu meranti untuk bikin gagang tulup
  • Pelepah pohon enau (pinang atau aren) untuk bikin batang serta mata ancar (peluru tulup)
  • Getah pohon tatar untuk bikin toksin
  • Bambu untuk bikin terontong


2. Senjata Tradisionil Nusa Tenggara Barat - Keris

Senjata Tradisional Nusa tenggara Barat

Warga Propinsi Nusa Tenggara Barat kenal beberapa jenis keris jadi senjata tradisionil. Tetapi, terdapatnya dua trek yang dilewati budaya keris ke NTB, yakni trek utara dari Bugis masuk ke NTB sisi timur, sedang trek Barat dari Bali ke Lombok.

Ketidaksamaan keduanya diantaranya dari sisi bentuk. Keris Lombok pada umumnya memiliki ukuran besar serta panjang, yaitu di antara 58 cm sampai 71 cm. Sedang keris Sumbawa memiliki ukuran besar serta pendek, yaitu di antara 34 cm sampai 51 cm. Selain itu keris Jawa memiliki ukuran sedang, di antara 49 cm sampai 51 cm.

Arti / nama Keris di lombok dikenal juga jadi Sampari, yakni arti lokal etnis Mbojo (Bima serta dompu) untuk Keris yang ber-teritorial di daerah pulau Sumbawa sisi timur. Penampilan masih mengambil dari muasal induk, ciri khas barisan keris Sulawesi.

Macam kayu, seperti umumnya memasangkan dua type pilihan, pada angkup (yang mirip tubuh kapal phinisi) serta hulu memakai kayu kemuning, dengan struktur yang lebih padat. Lalu pada gandar yang bercorak coklat gelap selama ini belum dapat saya sukses identifikasi.

Struktur kayu tidak sepadat kemuning, tetapi lihat tektur ada susunan belang seperti mengacu pada type kayu yang oleh komune Sulawesi dipanggil kayu Bawang.

3. Senjata Tradisionil Nusa Tenggara Barat - Kelewang


Senjata tradisionil Nusa Tenggara Barat seterusnya yang akan kita mengenal yakni Klewang yang disebut pedang ciri khas tentara spesial kerajaan Lombok. Rata-rata tahun penciptaan sekitar tenggang 1700 – 1800 Masehi.

Seperti disibak dalam buku “Keris Lombok” karangan Bapak Ir. Lalu Djelenga. Warga umum di Lombok seringkali menyebutkan Klewang. Julukan yang hampir serupa buat semua type pedang. Pasukan tentara sering memiliki dibagian tubuh-punggung belakang.

Bentuk bilah besi terhunus dengan lengkungan ciri khas. Ujung mata pedang meruncing pada bagian bilah sisi yang tajam. Pamor pada pangkal bilah benar-benar kontras dengan tera motif yang semakin tampil cantik. Khususnya di bagian tengah bilah sampai ujung.

Tenggang panjang bilah raih 50 cm. Warangka dibuat dari kayu hitam. Tidak umum seperti biasanya bahan warangka keris ciri khas Lombok, bersanding kayu Berora Pelet.

Sedikit memberikan kesan-kesan tegas serta garang. Tetapi masih memiliki nuansa estetis dengan penambahan accessories, fragmen bungkus lempeng perak serta kuningan. Ukiran motif minimalis cuma ada di bagian hulu warangka.

Terima Kasih Sudah membaca tentang 3 Senjata Tradisional Nusa Tenggara Barat.

Lebih baru Lebih lama