Harga Cabai di Mataram Terus Meroket Tembus Rp90-100 Ribu/kg

DAFTAR Isi : Tampilkan

Harga Cabai di Mataram Terus Meroket Tembus Rp90-100 Ribu/kg
Harga Cabai di Mataram Terus Meroket Tembus Rp90-100 Ribu/kg

Sampai dengan pekan terakhir Januari harga cabai di Kota Mataram terus meroket. Di Pasar Cakranegara misalnya harga cabai rawit super dapat mencapai Rp90-100 ribu/kg.


Nursiah, salah seorang pedagang di Pasar Cakranegara menerangkan untuk pembelian per Kg harga cabai di pasar tradisional tersebut dijual Rp90 ribu. “Tapi kalau beli ecer kita jual Rp100 ribu. Karena susutnya itu yang banyak, jadi kalau diecer agak sedikit,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis, 28 Januari 2021.


Kenaikan harga telah terjadi selama dua pekan terakhir. “Pokoknya sejak musim hujan turun,” jelasnya. Berdasarkan informasi yang diterimanya, hal tersebut disebabkan panen petani yang mengalami penurunan. “Apalagi hujan begini cabai di petani juga cepat busuk,” sambungnya.


Untuk mengatasi harga yang tinggi tersebut, pedagang juga melakukan beberapa siasat. Dicontohkan Nursiah pembelian di pengepul saat ini dikurangi untuk mencegah penumpukan cabai hingga busuk.


“Kalau mahal begini kita beli sedikit. Sekarang kita beli besok atau lusa harus sudah habis. Soalnya ini cepat busuk,” jelasnya. Untuk daya beli masyarakat sendiri diakuinya mengalami penurunan. “Tapi tergantung juga. Kalau masyarakat yang suka pedas tetap dia beli. Cuma yang tidak terlalu suka ini yang biasa saja dia tidak beli,” tandas Nursiah.


Kepala Pasar Induk Mandalika, H. Ismail, menerangkan untuk harga cabai rawit di pengepul saat ini masih berkisar antara Rp70-75 ribu. “Jadi belum berubah kalau di pasar induk sini. Dari sini yang di Pasar Kebon Roek atau Pasar Cakranegara kemudian mengambil,” ujarnya.


Diterangkan, harga cabai tersebut diperkirakan akan turun jika kiriman cabai dari Jawa telah masuk. Di mana berdasarkan informasi terakhir yang diterima pihaknya dari Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB kiriman cabai dari jawa telah sampai di asosiasi cabai.


“Terakhir dikabari begitu, tapi kita tanya ke pedagang mereka masih mengambil dari (petani) di Lombok Timur. Sempat juga Bu Kabid dari Disdag Provinsi membahas itu, tapi setelah kita keliling di sini belum ada yang mengambil dari kiriman cabai Jawa,” jelasnya.


Kabid Pengendalian Bahan Pokok dan Penting (Gapokting) Disdag Kota Mataram, Sri Wahyunida, menerangkan berdasarkan koordinasi terakhir pihaknya dengan Disdag Provinsi kiriman cabai dari jawa memang telah sampai di asosiasi cabai di Lombok TImur. “Ini masuk langsung ke Pasar Paok Motong. Biasanya di sana dibagi. Baru dikirim ke Mandalika, tapi kalau tidak ada sampai sekarang berarti sudah habis di pengepulnya di Lombok Timur,” ujarnya saat dihubungi, Kamis, 28 Januari 2021.


Berdasarkan pemantauan yang dilakukan pihaknya di enam pasar tradisional, memang belum ditemukan ada pedagang yang menjual cabai kiriman dari jawa. Pemantauan antara lain dilakukan di Pasar Mandalika, Pasar Cakranegara, Pasar Dasan Agung, Pasar Pagutan, Pasar Pagesangan, dan Pasar Kebon Roek.


Melihat kondisi tersebut, pihaknya menduga ada pedagang yang mencampur cabai kiriman dari Jawa dengan cabai lokal dari Lombok Timur kemudian dijual dengan harga yang masih tinggi. “Kita prediksi seperti itu, tapi kita akan tekankan ke Asosiasi Cabai dan koordinasi dengan pihak provinsi supaya pengiriman disesuaikan dengan ketersediaan kita sendiri,” ujar Nida.


Menurutnya, untuk pengaturan distribusi tersebut posisi Disdag memang cukup lemah. Di mana seluruh aktivitas distribusi menjadi hak pelaku usaha, dalam hal ini distributor cabai yang tergabung dalam asosiasi. “Kalau kita mau intervensi, kita juga tidak punya dasar yang kuat. Jadi kita harapkan ada jalan tengah,” tandas Nida.


Lihat artikel asli

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama