Petani Desa Mertak Kec. Pujut Menjerit Karena Pupuk Bersubsidi Sangat Langka

DAFTAR Isi : Tampilkan
Petani Desa Mertak Kec. Pujut Menjerit Karena Pupuk Bersubsidi Sangat Langka

Petani di Desa Mertak Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Akibatnya, tanaman padi tidak tumbuh dengan baik bahkan terancam gagal panen kalau hujan tidak turun secara stabil. Tidak hanya kelangkaan pupuk yang membuat para petani di Desa mertak menjadi pusing, namun harga pupuk subsidi tahun 2021 Juga semakin memberatkan petani. Kenaikan harga pupuk ini terjadi pada hampir semua pupuk dengan rata-rata kenaikan Rp 350-550 per kilogram.


Terkait kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk diakui memang harganya sedikit naik. Berdasarkan, pasal 12 Permentan Nomor 49 tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi tahun 2021, terdapat kenaikan HET beberapa jenis pupuk bersubsidi tahun 2021. Diantaranya, pupuk jenis urea HET sebelumnya Rp1.800 per kilogram naik menjadi Rp2.500 per kilogram. Terdapat kenaikan sekitar Rp450. Pupuk Jenis SP-36,HET sebelumnya Rp2.000 naik menjadi Rp2.400. Terdapat kenaikan Rp 400.


Kemudian Jenis pupuk ZA mengalami kenaikan Rp300, dari harga sebelumnya Rp1.400 menjadi Rp1.700 per kilogram. Dan jenis pupuk organik granul, HET sebelumnya Rp500 per kilogram menjadi Rp 700 per kilogram. Terdapat kenaikan sekitar Rp300. Sedangkan jenis pupuk NPK tidak mengalami kenaikan harga.


Kepala Bidang Sarana Prasarana Pertanian (SPP) Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah, Yusuf Adi mengatakan, kelangkaan puput ini terjadi karena stok pupuk bersubsidi Tahun 2020 telah habis. Sehingga kebutuhan pupuk bagi petani pada awal musim tanam ini tidak bisa dipenuhi.


Selain itu juga, yang menjadi penyebab kelangkaan pupuk ini adalah, musim tanam tahun 2019 lalu itu mundur di awal tahun 2020. Sehingga kuota pupuk tahun 2020 itu telah terpakai. Sedangkan musim tanam pada musim hujan tahun 2020 ini maju di bulan November – Desember sehingga menyebabkan kelangkaan pupuk di awal januari 2021.


“Kelangkaan ini dari pusat, karena kuota yang diberikan sedikit atau tidak sesuai dengan usulan di RDKK,” ujarnya.


Para petani diimbau untuk membeli pupuk di pengecer yang resmi untuk mengantisipasi peredaran pupuk palsu. sedangkan pupuk non subsidi masih ada, tapi harganya yang jauh berbeda Rp 600-700 ribu perkwintal.


Harusnya pemerintah segera bertindak mengatasi fenomena langkanya pupuk bersubsidi di lapangan, apalagi ketika waktu musim tanam tiba serta mengantisipasi berbagai kesulitan yang dihadapi petani ujar salah satu warga Desa Mertak kec. Pujut. 

 

Para petani Desa mertak kecamatan Pujut berharap, Suply pupuk agar segera kembali Normal supaya tidak terjadi gagal panen seperti tahun sebelumnya.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama