Tradisi Begarap di Lombok : Refleksi Atas Efektivitas Hukum

DAFTAR Isi : Tampilkan

Tradisi Begarap di Lombok

Makam Wali Nyatoq Namanya. Makam tersebut diyakini oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok sebagai makam orang suci yang bernama, Sayyid Abdullah, penyebar agama Islam di bumi seribu masjid pada kitaran abad ke-16. 


Kesucian dan karomah-nya bahkan dipercaya masih terjadi hingga saat ini. Salah satunya adalah tanah dari Makam Nyatoq yang telah dicampur dengan air dapat menjadi sarana dalam menyelesaikan sengketa. Bahwa apabila ada seseorang yang berbohong telah melakukan suatu kejahatan dan berani meminum Aiq Nyatoq tersebut, maka akan ada petaka yang menimpanya. Tradisi atau ritual “pencarian kebenaran” itu kemudian dinamakan begarap.


Prosesi ritual begarap ini dimulai dari adanya laporan masyarakat yang berkepentingan bahwa telah terjadi sengketa/konflik semisal kehilangan barang akibat pencurian kepada pemangku adat/makam setempat. 


Kemudian pemangku adat akan melakukan pengumuman pelaksanaan begarap ke masyarkat dusun atau daerah yang dihendaki oleh pelapor. Pemangku adat akan mengambil tanah Makam Nyatoq yang terletak pada bagian tertentu lalu dicampurkan dengan air dan dirapalkan doa-doa. Air yang tercampur itu disebut aiq Nyatoq.


Penghukumannya berupa jika ia berani meminum aiq Nyatoq maka harus dinyatakan tidak bersalah dengan konsekuensi moral bahwa ketika berhobong akan datang malapetak yang akan menimpanya. Selanjutnya, apabila ia tidak berani meminum aiq Nyatoq tersebut maka ia dinyatakan bersalah untuk dijatuhi sanksi adat.


Pemaparan mengenai ritual dan tradisi di atas sesungguhnya dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi hukum tidak tertulis di tengah-tengah masyarakat. Ia hadir secara nyata dan dipraktekkan di masyarakat. Dalam bahasa yang spesifik, hukum tidak tertulis itu di masyarakat Sasak bernama awig-awig. 


Norma mengenai tata laksana dan prosedur proses begarap tersebut tidak tertulis di dokumen adat mana pun tetapi pelaksanaannya dari masa ke masa selalu dilakakukan dengan cara yang sama. Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat mengenai penegakan awig-awig masih dijunjung tinggi.  


Selain dari sisi “formil” awig-awig, sisi “materiil” pun erat kaitannya dengan keadilan dan kepuasan dalam menyelesaikan suatu sengketa. Ini dapat dicermati dari pengalaman empiris masyarakat Sasak yang telah menggunakan proses begarap. Keputusan dari tradisi begarap lebih diterima oleh masyarakat daripada melalui proses pro justicia via pengadilan  (L. Gingsir, 2017). Sehingga tidak berlebihan bila mengatakan bahwa norma awig-awig di masyarakat dilaksanakan secara efektif.


Begarap di Kecamatan Pujut Lombok Tengah

Begarap adalah salah satu tradisi masyarakat yang ada di wilayah Kecamatan Pujut yang sampai saat ini masih terus di lestarikan masyarakat setempat yang dijadikan sebagai langkah untuk mencari titik terang sebuah peristiwa atau perbuatan yang dilakukan seseorang untuk di adili. 


Tradisi Begarap masih  menjadi satu budaya yang sangat disakralkan masyarakat kecamatan Pujut khususnya Desa Rembitan dan masyarakat Pujut Liannya. Tradisi tersebut dilakukan dengan sangat khusus, betapa tidak, pengambilan tanah dan Air makam tersebut harus pada hari Rabu, sebab kalau pada hari lain berakibat fatal bagi orang yang melakukan proses pelaksanakan Ritual Begarap. 


Tanah makam yang diambil harus dicampur dengan Air yang diambil di tempat tersebut. Menurut Ketua adat dan pelaksana Begarap ketika Tanahyang dicampur Air tersebut dibawa pulang harus digendong bagai anak bayi dan di payungi.


Menurut pengalaman dan kepercayaan masyarakat Pujut dan sekitarnya sejak puluhan tahun, bahwa setiap orang yang meminum dan tidak mengakui perbuatannya padahal dia pelakunya maka kejadian buruk atau kwalat pasti diterima dalam waktu tidak terlalu lama dan itupun sampai tujuh turunan.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama