Ibu-Ibu Mohon Hati-Hati! BPOM Mataram Sita Produk Mengandung Boraks & Formalin yang Beredar di Pasaran

DAFTAR Isi : Tampilkan

Ibu-Ibu Mohon Hati-Hati! BPOM Mataram Sita Produk Mengandung Boraks & Formalin yang Beredar di Pasaran
Siti Nurkolina menunjukkan barang yang disita karena mengandung zat kimia berbahaya di kantor BBPOM di Mataram, Senin (15/2/2021).

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram menyita sejumlah barang dari beberapa pasar di Pulau Lombok. Barang-barang tersebut mengandung zat kimia berbahaya bagi manusia. “Barang yang kita sita mengandung boraks, rhodamin B, dan formalin,” beber Kepala BBPOM di Mataram Zulkifli sambil menunjukkan barang-barang yang dimaksud di kantornya, Senin (15/2/2021).


Barang yang disita antara lain terasi, mi basah, dan kerupuk. Penyitaan dilakukan saat melakukan sidak dalam kegiatan intensifikasi pengawasan bahan berbahaya dalam pangan.


Zulkifli menyampaikan, selama Januari 2021, tim gabungan BBPOM bersama Dinas Perdagangan NTB melakukan sidak ke beberapa pasar di Pulau Lombok. Di antaranya di Pasar Tanjung dan Pemenang (Lombok Utara), Pasar Gunungsari dan Keru (Lombok Barat), Pasar Renteng dan Jelojok (Lombok Tengah), Pasar Paok Motong dan Masbagik (Lombok Timur), serta Pasar Mandalika di Mataram.


Yang disasar adalah pedagang terasi, kerupuk, dan mi basah. Dari 118 terasi yang dijadikan sampel, 35 mengandung Rhodamin B (zat pewarna sintetis). ”Itu terasi lokal dan terasi impor,” ungkapnya.


Terasi lokal yang mengandung rhodamin B didapatkan di Pasar Paok Motong. Total ada 50 karung terasi positif mengandung zat kimia berbahaya. ”Total harga terasi yang mengandung rhodamin B itu Rp 55 juta,” bebernya.


Sedangkan terasi impor yang mengandung rhodamin B didatangkan dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Terasi itu didapatkan di Pasar Mandalika, Mataram. “Total terasi dari Berau yang kita sita sebanyak 11,5 karung. Total harganya Rp 8,37 juta,” jelasnya.


Untuk menindaklanjuti terasi impor tersebut, pihaknya bakal berkoordinasi dengan BBPOM di Samarinda. ”Nanti BBPOM Samarinda yang menindaklanjuti hasil temuan kami,” ujarnya.


Sementara dari 14 sampel mi basah yang diuji, 11 di antaranya positif mengandung boraks. Seluruhnya diproduksi pembuat mi lokal. ”Itu kita sita semuanya,” jelasnya.


Sedangkan dari 201 uji sampel kerupuk, 111 sampel positif mengandung boraks. ”Yang kita jadikan sampel ini adalah kerupuk produk lokal dan luar daerah,” kata Zulkifli.


Khusus kerupuk produk lokal kebanyakan mengandung rhodamin B. Dari hasil penelusuran, hampir di setiap pasar di kabupaten/kota di Pulau Lombok dijual kerupuk tersebut. Seperti di Lotim diproduksi di wilayah Rumeneng, Danger, dan Kampung Paratoh. Di KLU diproduksi di wilayah Gangga; di Lobar diproduksi di Gelogor dan Gerung. Sedangkan di Mataram diproduksi di Babakan. ”Itu harus diantisipasi oleh masyarakat,” ujarnya.


Sedangkan kerupuk buatan luar daerah didapatkan di Pasar Mandalika. Dari hasil sidak, pemasok kerupuk tersebut dilakukan UD Mamben. ”Mereka memasok dari Surabaya dan Jember, Jawa Timur,” terangnya.


Di tempat penyimpanannya, BBPOM menemukan 972 bal kerupuk asal Jatim. Seperti kerupuk tempe cap Kepiting; kerupuk tempe cap Rajawali; kerupuk rambak cap Lele; dan kerupuk rasa bawang cap Mahkota.


Zulkifli mengatakan, dari hasil temuan tersebut, pihaknya sudah memanggil pemilik barang untuk dimintai keterangan. Pihaknya belum menindaklanjuti kasus tersebut ke persoalan pidana. ”Kita masih lakukan pembinaan terhadap mereka. Baik yang sebagai produsen maupun sebagai penyalur. Belum ke ranah pidana,” ujarnya.


Intensifikasi pengawasan bahan berbahaya dalam pangan dilakukan untuk melindungi masyarakat supaya tidak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya. Karena mengonsumsi zat itu bisa membahayakan kesehatan. ”Kalau terlalu sering dikonsumsi bisa merusak sistem kerja ginjal dan hati,” terangnya.


Zulkifli menegaskan, operasi tersebut dilakukan bukan untuk mematikan bisnis mereka. Tetapi memberitahukan produsen agar tidak menggunakan bahan kimia. ”Kita masih mencarikan solusi supaya produsen terasi, kerupuk, dan mi basah tidak menggunakan zat kimia. Ini pekerjaan rumah kami sebagai pemerintah,” jelasnya.


Kabid Pengawasan dan Tertib Niaga Disdag NTB Haryono mengatakan, pihaknya akan memberikan peringatan kepada seluruh produsen yang membuat makanan menggunakan bahan kimia berbahaya. Jika masih melakukan tindakan serupa, akan ditindak sesuai aturan yang berlaku. ”Nanti kita akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum,” kata Haryono.


Ke depan, pengawasan terhadap penjualan makanan yang terindikasi mengandung bahan kimia akan diperketat. Guna mengantisipasi masuk ke wilayah NTB. ”Nanti kita berkoordinasi dengan syahbandar di pelabuhan,” katanya.


Lihat Sumber

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama