Zona Merah di NTB Didominasi Kawasan Pedesaan, Penerapan Prokes di Desa Akan Diperketat

DAFTAR Isi : Tampilkan

Zona Merah di NTB Didominasi Kawasan Pedesaan, Penerapan Prokes di Desa Akan Diperketat

Kasus positif covid di NTB terus mengalami peningkatan. Per 1 Februari 2021, kasus terkonfirmasi positif sebanyak 7.717 orang. Menurut Sekda NTB NTB HL Gita Ariadi kondisi ini sangat mengkhawatirkan.


Dari jumlah itu, sebanyak 1.487 orang masih dalam tahap isolasi. Sedangkan 5.891 orang dinyatakan sembuh. Sementara yang meninggal hingga kemarin sebanyak 339 orang.


Peningkatan kasus ini membuat pemprov mengambil langkah cepat. “Besok (3/2) kita akan rapat virtual dengan kabupaten/kota,” kata Sekda NTB HL Gita Ariadi, Selasa (2/2).


Wakil gubernur, kapolda, dan danrem hari ini dijadwalkan menghadiri rapat virtual. Untuk mengkaji lagi berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan mengantisipasi penyebaran Covid di daerah.


“Kebijakan apa yang perlu kita keluarkan untuk menghadapi angka-angka yang semakin serius,” ulasnya.


Penerapan protokol kesehatan (prokes) berpeluang diperketat. “(Misalnya) dengan membentuk satgas di tingkat desa, teknisnya besok (hari ini, Red) kita perdalam,” terangnya.


Gita berharap evaluasi hari ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mematuhi prokes. Terutama masyarakat di desa-desa yang kesannya, mengarah ke tidak percaya. “Jangan sampai di desa ada kesan tidak ada Covid,” ujarnya.


Justru desa dinilai rentan dengan kasus Covid. Mengingat aktivitas perjalanan ke luar daerah hingga ke luar negeri banyak dilakoni masyarakat akar rumput. “Terlebih adanya pekerja migran itu ujungnya di desa,” tekannya.


Diakui, rencana pengetatan prokes di desa ini, masih terkendala persoalan anggaran. Kemampuan anggaran kabupaten/kota tidak begitu kuat memaksimalkan lagi pengetatan prokes. “Tapi kami melihat (masih ada peluang) ada dana desa untuk mendukung optimalisasi,” harapnya.


Data juga yang memperlihatkan zona merah didominasi kawasan pedesaan. Sumbawa, Dompu, Kota Bima, dan Bima hingga 1 Februari masih berstatus risiko tinggi.


Sementara Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan Kota Mataram masuk zona risiko sedang atau oranye. Selebihnya dua daerah lain yakni Lombok Tengah dan Lombok Utara masuk zona kuning atau risiko rendah.


“Jadi di (pulau) Sumbawa itu, dari oranye kini sudah jadi merah (kecuali KSB),” ungkapnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB dr HL Hamzi Fikri berharap masyarakat semakin terbuka dan tidak alergi dengan langkah pemerintah mentracking Covid. “Jangan takut di kontak tracking,” katanya.


Langkah pemerintah memperketat tracking semata-mata untuk mengoptimalisasi pencegahan penyebaran wabah. Sehingga dampak buruk wabah tidak semakin mengancam kesehatan masyarakat NTB lebih luas.


“Jika sebelumnya (kami menargetkan) 7-8 tracking kontak, ke depan kita targetkan 20,” kata mantan direktur RSUD NTB itu.


Masyarakat juga diimbau tidak khawatir bila hasil tracking nanti menunjukkan hasil positif. Semakin cepat kondisinya diketahui, maka penanganan kesehatan dapat lebih cepat diberikan.


Jangan sampai kondisi yang terjadi sebaliknya. Kondisi pasien sudah darurat dan banyak pula orang yang ikut terpapar olehnya karena lambat ditangani.


“(Teknis tracking) kita akan melakukan swab anti gen, kalau sudah ketemu, baru di PCR, itu baru lebih cepat ketemu kasusnya,” terangnya.


Teknis ini juga dilakukan untuk melacak kasus covid di aparatur Setda NTB. “Dari 413 (yang dites), 413 negatif dan satu positif,” ungkapnya.


Pengetatan prokes juga telah dilakukan di pelayanan medis. Hasil koordinasi dengan dinas kesehatan di kabupaten/kota disepakati setiap pasien yang akan menjalani penanganan operasi terlebih dahulu diswab.


Nanti kalau ketemu (pasien positif Covid) kemudian di tracking kontak,” terangnya.


Di sisi lain, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga tengah bekerja keras agar proses vaksinasi dapat diselesaikan pada bulan ini. “Kita tengah melakukan percepatan,” jelasnya.


Percepatan ini dilakukan dalam rangka memenuhi target Tenaga Kesehatan (Nakes), bisa rampung bulan ini. “Sehingga di bulan berikutnya, step bisa beralih ke (vaksinasi) TNI-Polri, sampai masyarakat umum,” jelasnya.


Hamzi yakin, target vaksinasi nakes bisa tuntas tepat waktu. “Kalau nakes kan bisa saling imunisasi dengan temannya di fasilitasi kesehatan tempatnya bekerja,” terangnya.


Dia juga optimis target vaksinasi yang ditekankan nasional bisa terlaksana dengan baik. “Kita bisa herdimmunity sampai 70 persen (masyarakat NTB),” tegasnya.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama