Menggila, Seorang Petani di NTB Habisi Padinya Karena Harga Gabah Anjlok

DAFTAR Isi : Tampilkan

Seorang Petani di NTB yang sedang memotong Padinya karena harga gabah anjlok
Seorang Petani di NTB yang sedang memotong Padinya karena harga gabah anjlok

Seorang petani di Desa Wawonduru kecamatan Woja melakukan aksi pemotongan padi yang baru berbuah dengan mesin potong rumput karena kecewa dengan harga gabah yang anjlok hingga di bawah Rp3 ribu per kg. Aksinya itu direkam dengan video dan viral di media sosial.


Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, SP kepada Suara NTB, Senin, 29 Maret 2021 mengatakan, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk mengecek terkait video salah seorang petani di Wawonduru yang memotong padinya yang masih muda karena kecewa dengan harga gabah yang anjlok. “Tadi kepala Dinas dan teman – teman pertanian lainnya langsung turun temui petani, sekaligus mengecek harga gabah petani,” kata Syahrul.


Ia pun membantah tuduhan petani dalam video tersebut, harga gabah saat ini berada di bawah Rp3 ribu per kg. Faktanya, harga gabah petani dengan kering panen berada di kisaran Rp3.700 – Rp3.900 per kg. Harga ini berada di bawah HPP yang ditetapkan Rp4.200 per kg. Tapi HPP tersebut dengan kadar air (KA) maksimal 25 persen dan kadar hampa maksimal 10 persen. “Harga Rp3.700 – Rp3.900 per kg itu sudah sesuai dengan kadar air gabahnya,” kata Syahrul.


Kendati demikian, Syahrul mengatakan, Dinas Pertanian dan Perkebunan bersama penyuluh yang dimiliki akan tetap melakukan pendampingan pada petani agar mendapatkan harga sesuai HPP. HPP gabah yang ditetapkan Mentri Perdagangan untuk tahun 2021, gabah kering panen Rp4.200 per kg di gudang dengan KA maksimal 25 persen dan kadar hampa 10 persen. Sementara HPP gabah kering giling (GKG) sebesar Rp5.250 per kg dengan KA maksimal 14 persen dan kadar hampa maksimal 3 persen.


Kadar air dan kadar hampa gabah, kata Syahrul, sangat ditentukan dengan perlakuan petani terhadap gabah. Bisa disebabkan oleh pemberian pupuk berlebih, dan air yang tergenang pada padi menjelang masa panen sehingga gabah banyak yang hijau saat dipanen. Karena bulir hijau tersebut bisa menjadi biji hampa dan kapur.


Sebelumnya, Muslamin petani asal Desa Wawonduru melakukan aksi pemotongan padinya yang masih hijau dengan mesin pemotong rumput. Aksi itu dilakukan karena kecewa dengan harga gabah yang berada di bawah Rp3 ribu per kg. Ia pun memotong padinya untuk dijadikan pakan sapi. “Lebih baik dipotong untuk dikasi ke sapi,” katanya. Lihat artikel asli

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama