Dulu Sangat Sedikit, Kini Kasus Narkoba di Lombok NTB Semakin Parah

DAFTAR Isi : Tampilkan

Kasus Narkoba di Lombok NTB
Kasus Narkoba di Lombok NTB

Kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) di Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mengalami peningkatan. Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Provinsi (BNP) Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahmad Baharuddin, ia menjelaskan bahwa selama tahun 2010, terjadi 118 kasus yang melibatkan 155 orang pengguna. Adapun barang buktinya 15,365 kilogram.


Sebagai perbandingan, Baharuddin mengatakan, pada tahun 2009 terjadi 109 kasus dengan barang bukti 9,786 kilogram. Data selama empat tahun terakhir tercatat 495 kasus yang menyertakan barang bukti 36,317 kilogram. Sebagian besar atau 36,097 kilogram berupa ganja.


Barang bukti yang ditemukan dalam kasus yang terjadi tahun 2010, terdiri dari 15,254 kilogram ganja, 51,48 gram sabu, 48,38 gram kokain, dan 11 gram ekstasi. Sedangkan 2009, barang buktinya berupa 9,743 kilogram ganja, 26,26 gram sabu, 26 gram ekstasi, dan 0,22 gram heroin.


Dari 155 orang pengguna yang ditangani kepolisian di wilayah Kepolisian Daerah NTB, jumlah terbanyak, yakni 130 orang, terdiri dari mereka yang tingkat pendidikannya SMA. Sebanyak 14 orang SMP, serta hanya tamat SD enam orang. Sedangkan yang berpendidikan sarjana 5 orang.


”Faktanya memprihatinkan karena 75 persen di antara pengguna, pendidikannya hanya setingkat SMA,’’ kata Baharuddin yang didampingi Kepala Bidang Laboratorium Terapi dan Rehabilitasi BNP NTB, Baiq Rusniyati.


Untuk mengatasi terus meningkatnya kasus narkoba di NTB, pihak BNP sudah memulai mengembangkan model sekolah bebas narkoba. Untuk tahap awal diterapkan di SMA Negeri 1 Mataram. Selain itu, didirikan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat.


Secara nasional, NTB berada di urutan ke 20 sebagai daerah rawan dari sisi konsumsi Narkoba. Dari pengungkapan kasus berada di urutan 21. Dari sisi jumlah barang bukti menempati urutan ke 22. Sedangkan dari jenis barang bukti, penggunaan kokain di urutan kedua dan heroin di urutan 22.


Dari sisi profesi atau pekerjaan, para pengguna tersebut sebagian besar adalah kalangan swasta 90 orang. Selebihnya 29 orang wiraswasta, 15 orang pengangguran, mahasiswa (8), pelajar (6), PNS (4), petani (2), buruh (1). Usia pengguna terbanyak lebih dari 29 tahun berjumlah 68 orang, 25-29 tahun (37), 20-24 tahun (26), 16-19 tahun (24).


Baiq Rusniyati menjelaskan, sesuai Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 khususnya pasal 35, korban penyalahgunaan narkotika dengan barang bukti kurang dari 0,5 gram wajib direhabilitasi dan wajib lapor diri. ”Mereka tidak dikenai tahanan,” ujarnya.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama